Karawang Dari Masa ke Masa inilah Sejarah nya

Karawang

merupakan salah satu Kabupaten yang terbilang maju di Provinsi Jawa Barat,

Sebagai Sebuah Nama

Karawang sebagai sebuah nama yang menandakan sebagai daerah mandiri dikabarkan dalam beberapa catatan kalisk, diantaranya catatan yang terdapat dalam naskah Kesultanan Cirebon, dan Berita Portugis.

Dalan naskah Mertasinga, Karawang disebut “Krawang” dalam naskah ini dijelaskan bahwa Ki Gede Krawang pernah meminta ijin kepada Sunan Gunung Jati untuk membuat Masjid di Krawang. Ini menandakan bahwa pada masa Sunan Gunung Jati orang-orang Krawang terutamanya penguasanya sudah memeluk Islam, dan menggabungkan diri dengan Cirebon.

Masih dalam naskah yang sama disebutkan juga  bahwa, "suatu waktu Raktu Krawang datang bersama bibinya Nyimas Kawunganten untuk memeluk Islam dihadapan Sunan Gunung Jati, waktu itu Sunan Gunung Jati sedang berdakwah di Banten". Dalam naskah ini juga disebutkan bahwa Ratu Krawang adalah orang yang mempertemukan Suanan Gunung Jati dengan Nyimas Kawunganten. Perlu dipahami bahwa Nyimas Kawunganten ini adalah istri Sunan Gunung Jati ke IV yang kelak melahirkan Maulana Hasanudin, Raja pertama dari Kesultanan Banten.

Karawang Sebagai Pemerintahan Kabupaten/Keadipatian

Penulis meyakini bahwa sejatinya Krawang dalam masa Sunan Gunung Jati telah memiliki pemerintahan tersendiri, terbukti bahwa naskah-naskah Cirebon menginformasikan bahwa penguasa Krawang disebut dengan sebuatan Ki Gede atau Ratu, bahkan secara jelas juga dikisahkan penguasa Krawang merupakan salah satu keturunan Prabu Siliwangi, karena memang Ratu Krawang  mempunyai bibi yang usianya lebih muda darinya yang bernama Nyimas Kawunganten. Nyimas Kawunganten sendiri dalam naskah Cirebon dikisahkan sebagai anak dari Permadi Puti Raja dari Cangkuang adik tiri dari Pangeran Walangsungsang atau Cakrabuana, meskipun demikian tidak disebutkan dari istri Prabu Siliwangi yang mana Ratu Krawang itu dilahirkan.

Meskipun terdapat catatan bahwa Krawang sejatinya telah memiliki pemerintahan sendiri, akan tetapi ternyata catatan yang ada itu sepotong-sepotong atau tidak lengkap, oleh karena itu para sejarawan umumnya tidak mampu mengisahkan mengenai pemerintahan di Krawang pada abad ke 15.

Catatan tentang Pemerintahan di Krawang baru muncul kepermukaan sehingga kemudian dapat direkonstruksi dalam bentuk catatan sejarah yang lengkap baru terjadi pada abad ke 17, tepatnya ketika Sultan Agung dari Kesultanan Mataram melebur Kerajaan Sumedang Larang kedalam kekuasaanya pada tahun 1620 atas usulan Rangga Gempol Kusumahdinata yang waktu itu menjabat sebagai Raja Sumedang Larang, dan karena Krawang merupakan bagian dari kekuasaan Sumedang maka secara otomatis Krawang masuk menjadi bagian  Kesultanan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah.

Rangggempol Kusumahdinata dikisahkan sebagai Raja Sumedanglarang yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Agung. Pada tahun 1620, Ranggagempol Kusumahdinata menghadap ke Mataram dan menyerahkan Kerajaan Sumdeanglarang dibawah naungan Kerajaan Mataram. Sejak itu Sumedanglarang dikenal dengan sebutan “Prayangan”.

Ranggagempol Kusumahdinata, oleh Sultan Agung diangkat menjadi Bupati Wadana untuk tanah Sunda dengan batas-batas wilayah disebelah timur Kali Cipamali, sebelah barat Kali Cisadane, disebelah utara laut Jawa dan, disebelah selatan Laut Kidul.